Minggu, 29 Juni 2014

Glossarium Ketenagalistrikan

A : Ampere, Satuan Arus Listrik
AF : Availability Factor, Faktor ketersediaan, adalah perbandingan antara daya yang tersedia unit pembangkit pada waktu tertentu dengan daya mampu netto unit pembangkit tersebut  


APP : Alat Pembatas dan alat Pengukur, Alat milik PT PLN (Persero) yang berfungsi untuk membatasi daya listrik yang dipakai serta mengukur pemakaian energi listrik
Asut : Start

Asut Gelap : Black Start, pengasutan suatu unit pembangkit yang dilakukan tanpa ketersediaan pasokan daya dari luarADB : Air Dried Basis, merupakan nilai kalori batubara yang memperhitungkan inherent moisture saja

ASEAN Power Grid : Sistem interkoneksi jaringan listrik antara negara-negara ASEAN
Aturan Distribusi : Aturan Distribusi Tenaga Listrik merupakan perangkat peraturan dan persyaratan untuk menjamin keamanan, keandalan serta pengoperasian dan pengembangan sistem distribusi yang efisien dalam memenuhi peningkatan kebutuhan tenaga listrik

Aturan Jaringan : Aturan Jaringan merupakan seperangkat peraturan, persyaratan dan standar untuk menjamin keamanan, keandalan serta pengoperasian dan pengembangan sistem tenaga listrik yang efisien dalam memenuhi peningkatan kebutuhan tenaga listrik

BUS : Rel Busbar
BBM : Bahan Bakar Minyak

Beban : Sering disebut sebagai Demand, merupakan besaran kebutuhan tenaga listrik yang dinyatakan dengan MWh, MW atau MVA tergantung kepada konteksnya

Biaya Beban : Komponen biaya dalam rekening listrik yang besarnya tetap, dihitung berdasarkan daya tersambung

Beban puncak : Atau peak load / peak demand, adalah nilai tertinggi dari langgam beban suatu sistem kelistrikan dinyatakan dengan MW

Biro Instalatir : Badan usaha penunjang tenaga listrik yang bergerak dalam pembamngunan dan pemasangan peralatan ketenagalistrikan, yang sah terdaftar dan mendapat ijin kerja dari PT PLN (PERSERO)/Pemerintah

BP : Biaya Penyambungan, biaya yang harus dibayar kepada PT PLN (PERSERO) oleh pelanggan atau calon pelanggan untuk memperoleh penambahan daya atau penyambungan baru

BK : Biaya Keterlambatran, biaya yang dikenakan PT PLN (PERSERO) kepada pelanggan atas keterlambatan pembayaran rekening listrik

Blackout : Padam
BPP : Biaya Pokok Penyediaan
BTU : British Thermal Unit
CF : Capacity Factor, Faktor kapasitas, adalah perbandingan antara jumlah produksi listrik selama periode operasi terhadap jumlah produksi terpasang selama periode tertentu (1 tahun) 

Capacity balance : Neraca yang memperlihatkan keseimbangan kapasitas sebuah gardu induk dengan beban puncak pada area yang dilayani oleh gardu induk tersebut, dinyatakan dalam MVA

Captive power : Daya listrik yang dibangkitkan sendiri oleh pelanggan, umumnya pelanggan industri dan komersial

CT : Current Transformer (Trafo Arus), alat untuk menurunkan arus listrik untuk keperluan pengukuran energi listrik atau untuk peralatan pengaman dan pengendalian listrik lainnya

CCS : Carbon Capture and Storage
CCT : Clean Coal Technology
CDM : Clean Development Mechanism atau MPB Mekanisme Pembangunan Bersih
COD : Commercial Operating Date
DMN : Daya Mampu Netto, besarnya daya output pembangkit yang sudah dikurangi dengan pemakaian sendiri unit pembangkit tersebut

Daya mampu : Kapasitas nyata suatu pembangkit dalam menghasilkan MW
Daya terpasang : Kapasitas suatu pembangkit sesuai dengan name plate
Daya Tersambung : Batas daya yang dapat digunakan oleh pelanggan setiap saat dan tercatat di PT PLN (PERSERO) serta menjadi dasar perhitungan Biaya Beban

Dispacher : Pelaksana pengendali operasi
DAS : Daerah Aliran Sungai
DMO : Domestic Market Obligation
EBITDA : Earning Before Interest, Tax, Depreciation and Amortization
ERPA : Emission Reduction Purchase Agreement
Excess power : Kelebihan energi listrik dari suatu captive power yang dapat dibeli oleh PLN
FSRU : Floating Storage and Regasification Unit
GD : Gardu Distribusi
GI : Gardu Induk
GITET : Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (500 kV)
GITO : Gardu Induk Tanpa Operator
GT : Gas Turbine PLTGU
GWh : Giga Watt Hour (1 GWh=1.000 MWh)

Gangguan : Kejadian takterencana yang mengakibatkan kondisi abnormal dalam Jaringan (Grid)

GAR : Gross As Received, merupakan nilai kalori batubara yang memperhitungkan total moisture
Hz : Hertz, satuan frekuensi listrik
GRK : Gas Rumah Kaca
HSD : High Speed Diesel Oil
HVDC : High Voltage Direct Current
HSD : High Speed Diesel Oil
Host Load : Unit pembangkitan berbeban pemakaian sendiri
Heat Rate : Besar energi yang digunakan oleh unit pembangkit dalam memproduksi satu unit output. Contoh : jumlah energi untuk memproduksi energi 1 MWh (dinyatakan dalam GJ/MWh)

Heat Rate Curve : Kurva yang menunjukkan konsumsi energi termal per-jam operasi pada tingkat output yang bervariasi (GJ/Jam)

IBT : Inter Bus Transformer, yaitu trafo penghubung dua sistem transmisi yang berbeda tegangan, seperti trafo 500/150 kV dan 150/70 kV

IGCC : Integrated Gasification Combined Cycle
IPP : Independent Power Producer
IBT : Interbus Transformer (500 kV/150 kV)
IDO : Intermediate Diesel Oil

Island Operation : Pembangkitan terpisah dari sistem dan beroperasi dengan beban di sekitarnya

JTM : Jaringan Tegangan Menengah adalah saluran distribusi listrik bertegangan 20 kV
JTR : Jaringan Tegangan Rendah adalah saluran distribusi listrik bertengangan 220 V
JTL : Sambungan Langsung (SL) termasuk peralatannya, sehingga tenaga listrik disalurkan tanpa melalui APP

JCC : Jawa Bali Control Centre, Pusat Pengatur Beban Jawa Bali
kV : Kilo Volt (=1000 volt)
kVA : Kilo Volt Ampere (=1000 volt ampere)
kVARh : Kilo Volt Ampere Reactive Hour, satuan energi listrik semu (reaktif)
kW : Kilo Watt, satuan daya listrik nyata (aktif)
kWh : Kilo Watt Hour, satuan energi listrik nyata (aktif)
kmr : kilometer-route, menyatakan panjang jalur saluran transmisi
kms : kilometer-sirkuit, menyatakan panjang konduktor saluran transmisi / jaringan tenaga listrik
Kabel TM : Kabel Tegangan Menengah
Kabel TR : Kabel Tegangan Rendah
Line Charging : Pemberian tegangan ke saluran pengantar (transmisi)
Life Extension : Program rehabilitasi suatu unit pembangkit yang umur teknisnya mendekati akhir
LNG : Liquified Natural Gas

LF : Load Factor, Faktor beban, adalah perbandingan dari rata-rata output atau beban terhadap maksimum output atau beban dalam suatu periode terhadap beban puncak yang terjadi pada periode tersebut 

Load Shedding : Pengurangan beban secara sengaja (otomatis / manual) dengan pemutusan beban tertentu karena kejadian abnormal, untuk mempertahankan integritas Jaringan dan menghindari pemadaman yang lebih besar

Losses : Energi listrik yang hilang dalam inti Trafo dan konduktor penghantar/kabel di Jaringan
LWBP : Luar Waktu Beban Puncak
LOLP : Loss of Load Probability, suatu indeks keandalan sistem pembangkitan yang biasa dipakai pada perencanaan kapasitas pembangkit

MW : Mega Watt (1 MW=1.000 kW)
MWh : Mega Watt-hour (1 MWh=1.000 kWh)

MSCF 103 : Million Standard Cubic Foot, ( M=103 )

MMSCF 106 : Million Metric Standard Cubic Foot, Standard Cubic Foot, (MM=106), satuan yang biasa digunakan untuk mengukur volume gas pada tekanan dan suhu tertentu

MMSCFD : Million Metric Standard Cubic Foot per Day
MMBTU : Million Metric British Termal Unit, satuan yang biasa digunakan untuk mengukur kalori gas
Mothballed : Pembangkit yang tidak dioperasikan namun tetap dipelihara
MP3EI : Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
MO : Maintenance Schedule, Skedul yang menunjukkan rencana outage pelaksanaan pemeliharaan
MFO : Marine Fuel Oil

Merit Order : Daftar unit pembangkit dengan urutan biaya operasi yang marginal, sudah termasuk pertimbangan : biaya start-up dan shut-down, minimum start-u dan waktu keluar, kendala bahan bakar, serta kendala operasi lainnya

Neraca daya : Neraca yang menggambarkan keseimbangan antara beban puncak dan kapasitas pembangkit

Non Coincident Peak Load : Jumlah beban puncak sistem-sistem tidak terinterkoneksi tanpa melihat waktu terjadinya beban puncak

Outage : Suatu periode waktu dimana pusat pembangkit, unit pembangkit atau bagian dari Grid, secara keseluruhan atau sebagian tidak beroperasi karena suatu kejadian yang terencana maupun tidak terencana

PJU : Penerangan Jalan Umum, Penerangan untuk jalan dan prasarana umum yang dipasang secara resmi oleh pemda atau badan resmi lainnya dan mendapat pasokan tenaga listrik dari PLN secara legal

PO : Planned Outage, pengeluaran unit pembangkit atau fasilitas jaringan selama kurun waktu tertentu yang diusulkan oleh pemakai Grid dan disetijui oleh UBOS-P3B

PLTA : Pusat Listrik Tenaga Air
PLTD : Pusat Listrik Tenaga Diesel
PLTG : Pusat Listrik Tenaga Gas
PLTGU : Pusat Listrik Tenaga Gas dan Uap
PLTM : Pusat Listrik Tebnaga Minihidro
PLTMH : Pusat Listrik Tebnaga Mikro Hidro
PLTP : Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi
PLTU : Pusat Listrik Tenaga Uap
Pms : Pemisah (disconecting switch)
Pms Tanah : Earthing Switch
Pmt : Pemutus tenaga (circuit breaker)

PPJ : Pajak Penerangan Jalan, pajak yang dibayarkan oleh semua pelanggan PT PLN (PERSERO), dipungut oleh PT PLN (PERSERO) dan selanjutnya disetor ke Kas Pemda

PT : Potentio Transformer (Trafo Tegangan), alat untuk menurunkan tegangan listrik yang diperlukan khusus bagi pengukuran energi listrik atau peralatan pengaman dan pengendali listrik lainnya

P2TL : Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik, Pemeriksaan oleh PLN terhadap instalasi PLN dan instalasi pelanggan dalam rangka penertiban pemakaian/pemanfaatan tenaga listrik

Peaking : Pembangkit pemikul beban puncak
Prakiraan beban : Demand forecast, prakiraan pemakaian energi listrik di masa depan
RCC : Region Control Centre, Pusat Pengatur Region
Region 1 : Region Control Centre untuk wilayah Jakarta dan Banten (Cawang)
Region 2 : Region Control Centre untuk wilayah Jawaq Barat (Cigereleng)
Region 3 : Region Control Centre untuk wilayah Jawa Timur dan DIY (Ungaran)
Region 4 : Region Control Centre untuk wilayah Jawa Timur dan Bali (Waru)
Reserve margin : Cadangan daya pembangkit terhadap beban puncak, dinyatakan dalam %

Rasio elektrifikasi : Perbandingan antara jumlah rumah tangga yang berlistrik dan jumlah keseluruhan rumah tangga

SR : Sambungan Rumah
ST : Steam Turbine PLTGU

SL : Sambungan Langsung, adalah sambungan JTL termasuk peralatannya, sehingga tenaga listrik disalurkan tanpa melalui APP

STL : Sambungan Tenaga Listrik, penghantar di bawah atau di atas tanah termasuk peralatannya sebagai bagian instalasi PLN yang merupakan sambungan antara JTL milik PLN dengan instalasi pelanggan

SMP : Saluran Masuk Pelayanan, Kabel milik PLN yang menghubungkan antara jaringan Tegangan Rendah dengan APP yang terpasang di rumah pelanggan

SUTET : Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (500 kV)
SUTM : Saluran Udara Tegangan Menengah (6 kV, 20 kV)
SUTR : Saluran Udara Tegangan Rendah (220 V, 380 V)
SUTT : Saluran Udara Tegangan Tinggi (70 kV, 150 kV)
SAIDI : System Average Interruption Duration Index (Indeks Lama Gangguan)
SAIFI : System Average Interruption Frequency Index (Indeks Frekuensi Gangguan)
SCADA : Supervisory Control And Data Acquisition
SFC : Specific Fuel Consumtion

Shutdown : Pengeluaran suatu unit pembangkit dari JaringanSKLT : Saluran Kabel Laut Tegangan Tinggi
SKTT : Saluran Kabel Tegangan Tinggi
Subregion : Group Switching Centre
SPK-TPA Citarum : Sekretariat Pelaksana Koordinasi Tata Pengaturan Air Sungai Citarum
Tagihan Listrik : Perhitungan biaya atas pemakaian daya dan energi listrik oleh pelanggan setiap bulan

Tagihan Susulan : Tagihan kemudian sebagai akibat adanya penyesuaian dengan ketentuan atau sebagai akibat adanya pelanggaran

TDL : Tarif Dasar Listrik, ketentuan pemerintah yang berlaku mengenai golongan tarif dan harga jual tenaga listrik yang disediakan oleh PLN

Tingkat cadangan : Reserve margin, adalah besar cadangan daya yang dimiliki oleh perusahaan dalam rangka mengantisipasi beban puncak

TR : Tegangan Rendah, Tegangan sistem 220 V, 380 V sampai dengan 1.000 Volt .
TM : Tegangan Menengah, Tegangan sistem diatas 1.000 Volt sampai dengan 35.000 Volt
TT : Tegangan Tinggi, Tegangan sistem diatas 35.000 Volt sampai dengan 245.000 Volt
TET :Tegangan Ekstra Tinggi, Tegangan sistem diatas 245.000 Volt
TMA : Tinggi Muka Air, ketinggian (meter) elevasi permukaan air waduk diatas permukaan laut
Total Blackout : Situasi dimana Jaringan (Grid) padam total
Trafo : Transformator
TWh : Tera Watt Hour (1 TWh=1.000 GWh) Titik Penyambungan Bersama : Titik terdekat dengan pelanggan dimana tersambung juga pelanggan yang lain pada JTR atau JTM atau JTr atau JTET

UBOS-P3B : Unit Bidding dan Operasi Sistem – Pusat Penyaluran dan Pengatur Beban, Unit PT PLN (PERSERO) yang mengoperasikan dan mengendalikan Jarinagan (Grid) Jawa-Bali untuk Sistem Tenaga Listrik Jawa-Bali

UFR : Under Frequency Relay, peralatan pemutus beban dengan pemicu awal (triger) besaran frekuensi

UF : Utility Factor, Faktor Penggunaan, adalah perbandingan antara beban puncak unit pembangkit pada periode tertentu dengan daya mampu netto unit pembangkit tersebut 

UJL : Uang Jaminan Langganan, uang milik pelanggan yang dititipkan kepada PT PLN (PERSERO) sebagai jaminan atas pemakaian daya dan energy listrik selama menjadi pelanggan.

UMTL : Uang Muka Tagihan Listrik, Penerimaan pembayaran untuk pemakaian daya dan energy listrik mendahului transaksi penyerahan daya dan energi berlangsung

Ultra super critical : Teknologi PLTU batubara yang beroperasi pada suhu dan tekanan diatas titik kritis air
V : Volt, Voltase, Voltage, Satuan Tegangan Listrik
VA : Volt Ampere, satuan daya listrik total (daya buta)
Watt : Satuan daya listrik nyata
WBP : Waktu Beban Puncak, Waktu jam 18.00 sampai dengan jam 22.00 waktu setempat
WKP : Wilayah Kerja Pertambangan

Medan Listrik, adalah ruang dimana terdapat gaya bekerja bermuatan elektrik; medan listrik terdapat dekat benda-benda yang bermuatan elektrik dan terdapat antara dua hantaran yang mempunyai beda potensial satu sama lainnya. Satuan kuat medan listrik dinyatakan dalam volt per meter (v/m).
Berdasarkan standar IPRA (International Protection Radiation Association), dan  direkomendasikan WHO, batasan medan listrik yang aman bagi kesehatan manusia adalah 10 kV/m selama 2 jam per hari atau 5 kV/m selama 24 jam (diperuntukkan bagi publik). Dan berdasarkan hasil pengukuran di lapangan, kuat medan listrik dibawah SUTT dan SUTET di Indonesia berkisar 0,25 kV/m.

Medan Magnit, adalah ruang dimana terdapat gaya elektrik dan gaya magnet; medan magnet yang membangkitkan arus elektrik disekeliling penghantar. Satuan kuat medan magnet dinyatakan dalam Tesla atau milli tesla, sering pula digunakan satuan Gauss atau milli Gauss. (1 T = 1000 mT; 1 G = 1000 mG; dan 1 T = 10.000 G).

Berdasarkan standar IPRA (International Protection Radiation Association), dan  direkomendasikan WHO, batas maksimum intensitas medan magnet yang diperbolehkan ialah 0,1 mT untuk jangka waktu 24 jam (diperuntukkan bagi publik).

AC/DC. Tanda bahwa suatu alat dapat menggunakan arus bolak-balik atau arus searah.

Anggaran (budget). Jumlah dana yang disediakan atau direncanakan.

AMDAL. Analisa Mengenai Dampak Lingkungan.

APAR. Alat Pemadam Api Ringan.

ASH. Debu sisa bakaran.

Basic Design. Rancangan dasar.
Bidding. Proses pelelangan untuk mengerjakan atau pengadaan suatu barang atau jasa.
Busbar. Batang conductor, biasanya terbuat dari lempeng tembaga panjang.
Commissioning. Uji coba, setelah proyek dinyatakan selesai dilakukan pengujian terhadap fungsi-fungsi seluruh peralatan yang ada apakah sesuai spesifikasi atau tidak.

Cubicle. Komponen listrikpada gardu listrik sebagai alat kontak, biasanya berbentuk kubus.
Earthing. Grounding, Pembumian.
Ekuiti. Penyertaan modal.
Emergency Exit. Jalan keluar darurat.

Eskalasi. Kenaikan harga.
Fatal Accident. Kecelakaan yang mematikan.

Feasibility Study (Studi Kelayakan). Digunakan untuk menilai apakah suatu kegiatan patut dilaksanakan atau tidak.

Feeder Cable. Kabel pengisian/sumber daya.
Fly Ash. Debu terbang. Partikel kecil yang beterbangan keluardari cerobong asap.
Fuse. Sekering.
Grey Area. Wilayah/daerah/aktivitas yang belumjelas penanggung jawabnya, daerah abu-abu.
Hertz (Hz). Satuan frekuensi, 1 Hz = 1 siklus per detik.

Inbouw Dus. Kotak yang ditanam pada dinding atau lantai bangunan yang merupakan bagian dari perangkat stop kontak, sakelar, dll.

Inflasi. Kenaikan harga barang.
Inclaring. Proses pengeluaran barang impor dari pabean.
Invitation To Bid. Ndangan untuk mengikuti proses pelelangan pekerjaan atau pengadaan barang dan jasa.

IP. Kode proteksi terhadap kemungkinan penyusupan debu atau air dari luar ke dalam instalasi listrik yang peka. Semakin besar angka semakin baik proteksinya, misalnya IP66 lebih baik dari IP65.

Konsultan Manajemen Konstruksi (MK/CM). Konsultan yang bertugas mengkordinasikan seluruh konsultan yang bekerja untuk suatu proyek, dan mengelola proyek sesuai jadwal, biaya, cakupan dan kualitas yang diinginkan pemilik proyek; untuk gedung bertingkat tinggi biaya konsultan MK/CM sebesar 1,3% x nilai nilai proyek.

Konsultan Mekanikal/Elektrikal (M/E). Konsultan yang disewa untuk merancang keperluan mekanikal dan Elektrikal (M/E) bangunan, termasuk gambar rinciannya. Untuk gedung bertingkat tinggi biaya jasa konsultan M/E kurang lebih sebesar 0,9% dari keseluruhan nilai proyek.

Mark Up. Dinaikkan, harga yang telah dinaikkan untuk mendapatkan laba.
MCB. 1) Moulded Circuit Breaker; 2) Main Circuit Breaker.
MCCB. Moulded Case Circuit Breaker.
MDP (Main Distribution Panel). Panel Distribusi Utama.

Megger. Singkatan secara mudah dari MegaOhm Meter, alat yang dipakai untuk mengukur tingkat  tahanan suatu konduktor dalam satuan yang besar.

Multimeter. Alat pengukur beberapa satuan listrik, Volt, Ampere, Ohm.
Natural Gas. Gas alam.

NEC (National Electrical Code). Peraturan listrik nasional (Amerika Serikat)

OSHA (Occupational Sfety and Health Administration). Badan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Amerika Serikat)

Outbouw. Menonjol keluar dari bidang bangunan.

Over time. Lembur, bekerja diluar jam kerja normal, dibayar dengan perhitungan tertentu.

Perangkat Lunak. Perangkat yang tidak dapat diraba, khusunya menyangkut hasil kerja kecerdasan manusia, misalnya program computer, desain, dan lain-lain.

Performance Appraisal. Penilaian kerja pegawai.

Progress Report. Laporan kemajuan, berisi informasi hal-hal yang telah dicapai hingga laporan tersebut dibuat, biaya yang telah dikeluarkan, masalah yang ada, dan laporan ini akan dibaca oleh owner.

Project. A temporary endeavor undertaken to create a unique product or service (definition by Project Management Institute); kegiatan temporer yang dilaksanakan untuk menciptakan produk atau jasa yang unik. Temporer, karena mempunyai batas waktu yang jelas jika tujuan telah tercapai; unik karena sesuatu yang dibuat/dikerjakan belum pernah ada yang persis sama.

PUIL 1987. Peraturan Umum Instalasi Listrik Indonesia tahun 1987.
Power Transformer. Trafo daya.
Qualified Person (OSHA Spec.) Seseorang yang karena pendidikannya, sertifikasinya, dan pengalamannya berhasil membuktikan kemampuan untuk memecahkan masalah dalam pekerjaannya.

Quality (ISO 8402 : 1994). Karakteristik menyeluruh dari suatu benda/jasa berkaitan dengan kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang tertulis maupun tidak tertulis.

Quality Control. (ISO 8402 : 1994). Aktivitas dan teknik operasional yang digunakan untuk memnuhi kebutuhan akan mutu.

Redundancy. Peralatan cadangan dengan kapasitas yang sama besar dengan yang dioperasikan.
Safety Belt. Sabuk pengaman, yang hanya mengikat pinggang.
Safety Briefing. Pertemuan singkat membahas masalah keselamatan, biasanya dilakukan beberapa saat menjelang kerja.
Safety Rules. Peraturan Keselamatan.
Server. Suatu jaringan computer, CPU yang berfungsi melayani seluruh kebutuhan unit-unitnya.
Shift. Bergesr, Giliran bertugas.
SIKA. Surat Ijin Kerja, bagi kontraktor instalasi listrik setelah melalui pengujian.
Solar Cell. Sel pembangkit listrik energi matahari.

Specification. Instruksi tertulis yang menyertai gambar serta menjelaskan jenis dan kualitas dari bahan atau pengerjaan suatu barang atau konstruksi.

SPK (Surat Perintah Kerja). Semacam dokumen kontrak yang menyatakan bahwa suatu pihak memberikan perintah kerja kepada pihak kedua dengan spesifikasi tertentu dan dengan nilai pembayaran tertentu.

Switch. Sakelar, alat untuk menyalakan atau mematikan peralatan listrik.
Visi. Pandangan ke depan.
Wave Length. Panjang gelombang.
DIL. Data Induk Langganan.

AMR. Automatic Meter Reading. Sistem pembacaan meter jarak jauh secara otomatis, terpusat, dan terintegrasi dari ruang kontrol melalui media komunikasi telepon publik (PSTN), telepon selular (GSM), PLC atau frekuensi radio, menggunakan software tertentu tanpa terlebih dulu melakukan pemanggilan (dial up).

PESAT (Pelayanan Satu Tempat). Produk layanan One Stop Service PLN Distribusi Jakarta & Tangerang yang memudahkan bagi pelangan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan listrik di satu tempat, yaitu di Unit Pelayanan.

PELANGI (Peduli Pelangan Inti). Produk pelayanan individual One To One Marketing dari PLN Distribusi Jakarta & Tangerang terhadap pelanggan besar yang memberi kontribusi besar bagi pendapatan PLN.

Call Center 123. Pusat pelayanan informasi dan gangguan melalui melalui telepon 123.

PRAQTIS. Pembayaran Rekening Listrik Fleksibel dan Otomatis (On Line). Produk layanan PLN yang memudahkan pembayaran rekening listrik melalui bank dan ATM.

PUKK. Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi. Program yang  bertujuan mendorong kegiatan dan pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan potensi usaha kecil dan koperasi masyarakat.

CD (Community Development). Program peduli lingkungan.

FOCUS (For Customer Satisfaction) 100 dan 5000.  Program PLN Distribusi Jawa Barat yang memberikan pelayanan khusus terhadap 100 pelanggan besar/potensial dan 5000 pelanggan biasa (non potensial) melalui Account Executive/Account Manager. Sehingga dapat membangun terbentuknya Customer Intimacy dan Customer Relationship Management dengan pelangan.

PDKB Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan.
PDKB TR/TM –   Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan pada Tegangan Rendah/Tegangan Menengah
PDKB TT/TET -   Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan pada Tegangan Tinggi/Tegangan Ekstra Tinggi.


AA
An Ansi (American National Standard Institute) cooling class designation indicating open, natural-draft ventilated transformer construction, usually for dry-type transformers.
Ambient Temperature
The temperature of the surrounding atmosphere into which the heat of the transformer is dissipated.
Ampere unit of current flow.
ANSI (American National Standards Institute)
An organization that provides written standards on transformer [6OOv and below (ANSI C89.1), 601~ and above (ANSI C57.12)].
Autotransformer
A transformer in which part of the winding is common to both the primary and the secondary circuits.

BIL
Basic Impulse Level, the crest (peak) value that the insulation is required to withstand without failure.
Bushing
An electrical insulator (porcelain, epoxy, etc.) that is used to control the high voltage stresses that occur when an energized cable must pass through a grounded barrier.
Buck transformer
Step down the Voltage from Primary Winding to Secondary Winding i.e. 460V to 230V.
Boost transformer
Step up the Voltage from Primary Winding to Secondary Winding i.e. 230V to 460V.

Cast-coil Transformer
A transformer with high-voltage coils cast in an epoxy resin. Usually used with 5 to 15 kV transformers.
Continuous Rating
Gaines the constant load that a transformer can carry at rated primary voltage and frequency without exceeding the specified temperature rise.
Copper Losses
See Load Losses.
Core-Form Construction
A type of core construction where the winding materials completely enclose the core.
Current Transformer
A transformer generally used in instrumentation circuits that measure or control current.

Delta
A standard three-phase connection with the ends of each phase winding connected in series to form a closed loop with each phase 120 degrees from the other. Sometimes referred to as 3-wire.
Delta Wye
A term or symbol indicating the primary connected in delta and the secondary in wye when pertaining to a three-phase transformer or transformer bank.
Distribution Transformers
Those rated 5 to 120 kV on the high-voltage side and normally used in secondary distribution systems. An aplicable standard is ANSI C-57.12.
Dripproof
Constructed or protected so that successful operation is not interfered with by falling moisture or dirt. A transformer in which the transformer core and coils are not immersed in liquid.

Exciting Current (No-load Current)
Current that flows in any winding used to excite the transformer when all other windings are open circuited. It is usually expressed in percent of the rated current of a winding in which it is measured.

FA
An ANSI cooling class designation indicating a forced air ventilated transformer, usually for dry type transformers and typically to increae the transformers and typically to increase the transformer’s KVA rating above the natural ventilation or AA rating.
Fan Cooled
Cooled mechanically to stay within rated temperature rise by addition of fans internally and/or externally. Normally used on large transformers only.
FOA
An ANSI cooling class designation indicating forced oil cooling using pumps to circulate the oil for increased cooling capacity.
FOW
An ANSI cooling class designation indicating forced oil water cooling using a separate water loop in the oil to take the heat to a remote heat exchanger. Typically used where air cooling is difficult such as underground.
Frequency
On AC circuits, designate number of times that polarity alternates from positive to negative and back again, such as 60 hertz (cycles per second).

Grounds or Grounding
Connecting one side of a circuit to the earth through low-resistance or low-impedance paths. This help prevent transmitting electrical shock to personnel. Also aids in the dissipation or mitigation of Noise (High frequency or other).
Ground Strap
A Flat Strap of varying density, width and length to aid in the dissipation of High frequency noise, commonly generated by Switching Power Supplies, Lighting Ballasts, Inverters or Variable Frequency Drives.

High-voltage and Low-voltage Windings
Terms used to distinguish the wind that has the greater voltage rating from that having the lesser in two-winding transformers. The terminations on the high-voltage windings are identified by H1, H2, etc., and on the low-voltage by X1, X2, etc.

Impedance
Retarding forces of current flow in AC circuits.
Indoor transformer
A transformer that, because of its construction, is not suitable for outdoor service.
Insulating Materials
Those materials used to electrically insulate the transformer windings from each other and to ground. Usually classified by degree of strength or voltage rating (0, A, B, C, and H).
Isolation transformer
For the purpose of isolating the Source Supply from the Consumer(s), aids in prevention of noise transmission, adds impedance, can also provide an isolated Ground on the secondary.

kVA or Volt-ampere Output Rating
The kVA or volt-ampere output rating designates the output that a transformer can deliver for a specified time at rated secondary voltage and rated frequency without exceeding the specified temperature rise (1 kVA = 1000 VA).

Liquid-immersed Transformer
A transformer with the core and coils immersed in liquid (as opposed to a dry-type transformer).
Load
The amount of electricity, in kVA or volt-amperes, supplied by the transformer. Loads are expressed as a function of the current flowing in the transformer, and not according to the watts consumed by the equipment the transformer feeds.
Load Losses
Those losses in a transformer that are incident to load carrying. Load losses include the I2R loss in the winding, core clamps, etc., and the circulating currents (if any) in parallel windings.

Mid-tap
A reduced-capacity tap midday in a winding – usually the secondary.
Moisture-resistant
Constructed or treated so as to reduce harm by exposure to a moist atmosphere.
Natural-draft or Natural-draft Ventilated
An open transformer cooled by the draft created by the chimney effect of the heated air in its enclosure.

No-load Losses (Excitation Losses)
Loss in a transformer that ls excited at its rated voltage and frequency, but which is not supplying load. No-load losses include core loss, dielectric loss, and copper loss in the winding due to exciting current.

OA
An ANSI cooling class designation indicating an oil filled transformer.

Parallel Operation
Single and three-phase transformers having appropriate terminals may be operated in parallel by connecting similarly-marked terminals, provided their ratios, voltages, resistances, reactances, and ground connections are designed to permit paralleled operation and provided their angular displacements are the same in the case of three-phase transformers.
Polarity Test
A standard test performed on transformers to determine instantaneous direction of the voltages in the primary compared to the secondary (see Transformer Tests).
Poly-phase
More than one phase.
Potential (Voltage) Transformer
A transformer used in instrumentation circuits that measure or control voltage.
Power Factor
The ratio of watts to volt-amps in a circuit.
Primary Taps
Taps added in the primary winding (see Tap).
Primary Voltage Rating
Designates the input circuit voltage for which the primary tiding is designed.
Primary Winding
The primary winding on the energy input (supply) side.

Rating
The output or input and any other characteristic, such as primary and secondary voltage,current, frequency, power factor and temperature rise assigned to the transformer by the manufacturer.
Ratio Test
A standard test of transformers used to determine the ratio of the primary to the secondary voltage.
Reactance
The effect of inductive and capacitive components of the circuit producing other than unity power factor.

Reactor
A device for introducing inductive reactance into a circuit for: motor starting, operating transformers in parallel, and controlling current.

Scott Connection
Connection for polyphase transformers. Usually used to change from two-phase to three-phase to three-phase to two-phase.
Sealed Transformer
A transformer completely sealed from outside atmosphere and usually contains an inert gas that is slightly pressurized.
Secondary Taps
Taps located in the secondary winding (see Tap).
Secondary Voltage Rating
Designates the load-circuit voltage for which the secondary winding (winding on the output side) is designed.
Series/Multiple
A winding of two similar coils that can be connected for series operation or multiple (parellel) operation.
Shell-type Construction
A type of transformer construction where the core completely surrounds the coil.
Star Connection
Same as wye connections.
Step-down Transformer
A transformer in which the energy transfer is from the high-voltage winding to the low-voltage winding or windings.
Step-up transformer
A transformer in which the energy transfer is from the low-voltage winding to a high-voltage winding or windings.
Use of Scott Connection for three-phase operation. A connection brought out of a winding at some point between its extremities, usually to permit changing the voltage or current ratio.
Temperature Rise
The increase over ambient temperature of the winding due to energizing and loading the transformer.
Total Losses
The losses represented by the sum of the no-load and the load losses.
Transformer
An electrical device, without continuously moving parts, which, by electro-magnetic induction, transforms energy from one or more circuits to other circuits at the same frequency, usually with changed values of
voltage and current.

Turns Ratio (of a transformer)
The ratio of turns in the primary winding to the number of turns in the secondary winding.

Volt-amperes
Circuit volts multiplied by circuit amperes.
Voltage Ratio (of a transformer)
The ratio of the RMS primary terminal voltage to the RMS secondary terminal voltage under specified conditions of load.
Voltage Regulation (of a transformer)
The change in secondary voltage that occurs when the load is reduced from rated value to zero, with the values of all other quantities remaining unchanged. The regulation may be expressed in percent (or per unit) on the basis of the rated secondary voltage at full load.

Winding Losses
See Load Losses.
Winding Voltage Rating
Designates the voltage for which the winding is designed
Wye Connection (Y)
A standard three-phase connection with similar ends of the single-phase coils connected to a common point. This common point forms the electrical neutral point and may be grounded.
Dan masih banyak lagi istilah - istilah teknis dalam dunia energy dan kelistrikan yang belum saya tulis disini. Dipersilahkan bagi pembaca untuk menambahkan ilmu dan pengetahuannya di kolom komentar.

Sabtu, 03 Mei 2014

Perbaikan Faktor Kerja (Power Factor Correction)

Perbaikan faktor kerja adalah suatu usaha atau langkah langkah untuk dapat mencapai system kelistrikan yang optimal. Power factor yang buruk dapat merugikan suatu sistem kelistrikan. Adapun kerugian yang dapat ditimbulkan dengan adanya factor kerja yang buruk atau rendah adalah :
1. Daya terpasang listrik PLN ( KVA) tidak dapat optimal. Jika beban yang ada sudah mencapai batas arus dari daya terpasang . maka tidak dapat menambah beban listrik lagi sedangkan kw yang terpakai masih dibawah daya terpasang.
1. Dengan power factor rata rata /bulan yang rendah akan dikenai penalty / denda dari PLN yang nilai rupiah / kvarh nya cukup tinggi. Hal ini karena sudah melebihi ketentuan yang distandarkan dari PLN yaitu sebesar 0,85.
Sebagai contoh :
- 10 hari pertama beban continu 30 kw cos phi 0,9
- 10 hari kedua beban continu 70 kw cosphi 0,8
- 10 hari ketiga beban continu 20 kw cosphi 0,9
Berapa power factor rata rata .?
Jawab :
10 hr x 24 jam x 30 kw x 0,9 = 6.480
10 hr x 24 jam x 70 kw x 0,8 = 13.440
10 hr x 24 jam x 20 kw x 0,9 = 4.320
--------------
Total = 24.240
10 hr x 24 jam x 30 kw = 7.200
10 hr x 24 jam x 70 kw = 16.800
10 hr x 24 jam x 20 kw = 4.800
Total = 28.800
Power Factor rata rata/bulan = 24.240 / 28.480
= 0,841
Jadi rata rata power factor yang didapat sebesar 0,841 , dan dikarenakan masih dibawah 0,85 maka akan dikenakan denda tiap kvarh yang terhitung.
Perhitungannya juga dapat diperkirakan dari hasil bagi kwh meter / bulan dibagi kvarh meter / bulan. Yang tidak boleh kurang dari nilai 1,615 yang berasal dari perhitungan sebagai berikut :
Cos phi / sin phi = 0,85 / 0,526 = 1,615
Jika hasil baginya lebih kecil dari 1,615 maka PLN akan memberlakukan denda tiap kvarh terbaca.
Sebagai contoh :
Jika dalam sebulan pemakaian energi yang ditunjukkan dalam kwh meter sebesar 8500 kwh sedangkan pemakaian energi reaktif sebesar 5200 kwh jadi jika kita memakai rumus diatas :
Kwhmeter / kvarh = 8500 / 5400 = 1,57
Dengan hasil tersebut diatas maka nilai yang didapat kurang dari
1,615 sehingga akan dikenakan denda sebesar Kvarh x Rp / Kvarh
2. Dengan power factor yang rendah maka arus menjadi lebih tinggi. Dengan arus yang tinggi ini akan menjadikan kabel lebih panas karena energi yang terbuang karena arus . sesuai dengan rumus I Rt . maka dengan tahanan kabel yang tetap dan arus yang melewati kabel berbanding lurus dengan panas yang dikeluarkan.
Jika penghantar dengan penampang 70 mm dilalui arus sebesar 200 Ampere dengan power factor 0,7 maka temperature yang ada didalam kabel akan lebih tinggi dibanding dengan setelah dipasang kapasitor dengan perkiraan jika cosphi mecapai satu maka arus akan menjadi 140 Ampere maka akan ada penurunan panas yang signifikan terhadap penghantar tersebut. Panas yang berlebihan pada sebuah penghantar secara terus menerus lama kelamaan akan dapat mengurangi daya hantar penghantar tersebut, sehingga meskipun dilalui dengan beban ampere yang sama maka panas kabel lama akan memepuyai potensi panas lebih tinggi dibandingkan dengan kabel instalasi terpasang baru.
3. Jika instalasi dengan kabel penghantar yang panjang dan jauh maka akan menyebabkan tegangan jatuh ( Delta V ) semakin besar diujung beban . Tegangan jatuh berbanding lurus dengan arus yang melewati penghantar.
Sebagai contoh :
Sebuah penghantar dengan penampang 70 mm sepanjang 200 meter dilalui arus sebesar 200 Ampere , maka tegangan jatuhnya akan lebih besar diujung instalasi jika dibandingkan dengan penghantar tersebut dilalui arus sebesar 140 A dengan perhitungan sederhana selisih tegangan jatuh mencapai :
Ampere awal – ampere akhir x panjang kabel bolak balik x (tahanan jenis / penampang kabel)
(200 A – 140 A) x ( 200 meter x 2) x (0,0175 / 70 mm )
60 x 400 x 0,00025 = 6 Volt
Jadi jika tegangan terukur diujung kabel sebesar 206 volt (phase-neutral) maka akan ada kenaikan tegangan sebesar 6 volt menjadi 212 Volt setelah ada penurunan arus karena pemasangan kapasitor
Dengan keempat kerugian yang ditimbulkan oleh karena power factor yang rendah maka diupayakan memperbaikinya dengan memasang capasitor bank.
Bagaimanakah konsep dasar sehingga dengan pemasangan kapasitor bank dapat memperbaiki factor kerja dari suatu sistem kelistrikan ? Hal itu dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Beban beban yang mempunyai kecenderungan memiliki cosphi kurang dari satu tertinggal ( leaging) adalah beban beban listrik yang mempunyai unsur lilitan dan inti besi. Semisal lampu tabung denga ballastnya, motor motor listrik, las listrik dan transformator .
- Sehingga daya listrik yang dipakai untuk mengoperasikan peralatan tersebut terdiri dari dua unsur yaitu daya aktif dan daya reaktif.
- Daya aktif adalah daya yang terpakai yang terukur dengan kilowattmeter. Daya ini membentuk energi aktif persatuan waktu dan dapat diukur dengan kwh meter.
- Sedangkan daya reaktif adalah daya yang terpakai sebagai energi pembangkitan flux magnetic sehingga timbul magnetisasi. Dan daya ini dikembalikan ke system karena efek induksi elektromagnetik itu sendiri.
Capasitor bank adalah sekumpulan beberapa kapasitor yang disambung secara parallel untuk mendapatkan kapasitas kapasitif tertentu. Besaran yang sering dipakai adalah Kvar ( Kilovolt ampere reaktif ) meskipun didalamnya terkandung / tercantum besaran kapasitansi yaitu Farad atau microfarad. Kapasitor ini mempunyai sifat listrik yang kapasitif ( leading ). Sehingga mempunyai sifat mengurangi / menghilangkan terhadap sifat induktif ( leaging ) .Dengan Dasar inilah Nilai power factor diperbaiki.
MENGHITUNG DAYA REAKTIF YANG DIPERLUKAN UNTUK MEMPERBAIKI FAKTOR KERJA
Berapakah kapasitas daya reaktif yang diperlukan untuk memperbaiki system instalasi agar dicapai power factor yang diinginkan .Ada beberapa metode yang bisa digunakan yaitu :
1. Metode tabel Cos Phi
Metoda ini menggunakan table cos phi (terlampir).Data yang diperlukan adalah daya beban puncak dan factor daya (cos phi )
Contoh :
Sebuah instalasi pabrik memiliki factor daya 0,7 untuk beban puncak 600 kw jika factor daya yang diinginkan menjadi 0,93 diperlukan daya kapasitor sebesar :
Dari tabel didapat angka : 0,62
Maka daya reaktif yang diperlukan = 0,62 x 600 kw = 372 kvar
2. Pembacaan Kvarh meter
Dengan uji petik pembacaan Kvarh meter analog pada beban puncak
Data yang diperlukan adalah Ratio CT, Ratio PT dan Rev./kvarh
Contoh :
Pembacaan putaran piringan kvarh meter setiap 10 putaran adalah 60 dtk. CT Ratio 20/5 A, PT Ratio 20 / 0,1 KV dan rev / kvarh = 900 putaran / kvarh
Daya reaktif yang diperlukan :
CT ratio ( 4)x PT ratio(200) x 3600 dt /60 dtk x 10 putaran
-----------------------------------------------------------------------
900 putaran / Kvarh
= 480.000 / 900 = 533 kvar
3. Pembacaan ampere dan cos phi
Dengan pembacaan ampere meter pada beban puncak dan pembacaan power factor pada beban puncak. Contoh =
Besar arus rata rata pada beban puncak 1000 Ampere
Power factor pada beban puncak 0,8 tertinggal (cosphi 1 )
Power factor yang direncanakan 1 ( cos phi 2 )
Q = 3 x VL x ( I sin phi 1 – I cos phi 1 x sinphi 2 )
-------------------------
Cos phi 2
Q = 1,732 x 400 V x ( 1000 x 0,6 - 1000 x 0,8 x 0 )
-----------------
1
Q = 692 x 600
Q = 415 Kvar
4.Pembacaan kw dan cos phi
Metode ini bersifat global yang diperkirakan power factor target cosphi 1
Dengan rumus dasar :
KVA = KW + KVAR
KVAR = KVA - KW
Contoh : Beban maksimum 400 kw pada cos phi 0,8
Beban dihitung KVA = 400/ 0,8 = 500
KVAR = 500 - 400 = 250.000 - 160.000 = 90.000
= 300 KVAR
Jika target power factor yang diharapkan kurang dari satu maka dapat menggunakan rumus :
Cos phi 1 ( awal ) = 0,8
Cos phi 2 (target) = 0,95
Daya aktif = 400 kw
Rumus =
Kvar = Kw ( tan phi 1 - tan phi 2 )
1 1
Kvar = Kw ( ---------- -1 - ---------- - 1 )
Cosphi 1 cosphi 2
1 1
= 400 ( ---------- -1 - ---------- - 1 )
0,8 0,95
= 400 ( 0,75 - 0,33 )
= 168 Kvar
1. Pembacaan rekening/tagihan listrik
Metode ini memerlukan data dari kwitansi selama satu periode (misalnya 1 tahun ). Kemudian data diambil dari pembayaran denda kvar tertinggi. Data lain yang diperlukan adalah jumlah waktu pemakaian.
Kvarh tertinggi 63504
Q = ------------------------ = ------------- = 265 Kvar
Waktu pemakaian 8 jam x 30 hari
METODA PEMASANGAN INSTALASI KAPASITOR
Cara pemasangan instalasi kapasitor dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
1. Global compensation
Dengan metode ini kapasitor dipasang di induk panel ( MDP )
Arus yang turun dari pemasangan model ini hanya di penghantar antara panel MDP dan transformator. Sedangkan arus yang lewat setelah MDP tidak turun dengan demikian rugi akibat disipasi panas pada penghantar setelah MDP tidak terpengaruh. Terlebih instalasi tenaga dengan penghantar yang cukup panjang Delta Voltagenya masih cukup besar.
1. Sectoral Compensation
Dengan metoda ini kapasitor yang terdiri dari beberapa panel kapasitor dipasang dipanel SDP. Cara ini cocok diterapkan pada industri dengan kapasitas beban terpasang besar sampai ribuan kva dan terlebih jarak antara panel MDP dan SDP cukup b
3. Individual Compensation
Dengan metoda ini kapasitor langsung dipasang pada masing masing beban khususnya yang mempunyai daya yang besar. Cara ini sebenarnya lebih efektif dan lebih baik dari segi teknisnya. Namun ada kekurangan nya yaitu harus menyediakan ruang atau tempat khusus untuk meletakkan kapasitor tersebut sehingga mengurangi nilai estetika. Disamping itu jika mesin yang dipasang sampai ratusan buah berarti total cost yang di perlukan lebih besar dari metode diatas
HARMONIC WAVE ( GELOMBANG HARMONIC )
Beban listrik di industri dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu
- Beban linier Yang dimaksud dengan beban linier adalah beban beban listrik yang tidak menimbulkan distorsi gelombang frekuensi . Hingga jika dilihat dari spectrum gelombang arus dan tegangan tidak nampak gelombang dengan frekuensi yang lain. Misalnya motor listrik induksi , pemanas , lampu pijar dan lain lain
- Beban non linier Yang dimaksud beban non linier adalah beban beban listrik yang dapat menimbulkan distorsi arus dan tegangan sehingga bentuk gelombang sudah tidak lagi sempurna sinusoida melainkan bisa dilihat seperti gambar. Frekuensi lain yang mucul akibat hal ini yang dinamakan gelombang harmonic. Beban beban listrik yang mengandung harmonic tinggi antara lain Lampu sodium ,mesin las listrik, inverter, soft starter, motor motor DC, UPS, trafo saturasi,tanur listrik
Dari kedua jenis beban ini beban non linier inilah yang dapat merusakkan kapasitor bank jika harmonic yang dihasilkan peralatan listrik berlebihan. Satuan haromic dalam prosen diukur dengan menggunakan alat ukur khusus ( Power quality meter ). Jenis kapasitor yang akan digunakan juga tergantung sampai seberapa besar Total daya peralatan yang mengandung harmonic dibandingkan dengan total daya trafo dalam satuan persen. Pada batas tertentu diatas 15 % maka harmonic ini dapat berpotensi merusakkan kapasitor .
Selain dapat berpotensi merusakkan kapasitor harmonic ini juga dapat menyebabkan :
1. Menaikkan rugi rugi panas pada motor , transformator dan generator sehingga menurunkan rendemen dari peralatan tersebut.
2. Combinasi parallel antara beban dan kapasitor dapat menimbulkan resonansi yang sifatnya memperkuat harmonic.dan berbahaya bagi peralatan elektronik.
3. Karena harmonic berpengaruh terhadap flux motor sehingga menimbulkan mekanikal vibrasi , noise dan ripple pada torsi motor.
4. Karena terpengaruh harmonic interference maka peralatan proteksi yang sifatnya elektronik dapat terpengaruh dan dapat mengalami kegagalan.
5. Karena gelombang arus dan tegangan sudah terdistorsi dengan harmonic maka pengukuran dengan instrument listrik bisa tidak lagi akurat karena gelombang arus dan tegangan sudah tidak sinusoida murni. Dan peralatan elektronik selalu menggunakan kapasitor dn akan membuat deviasi hasil pengukuran.
Bagi peralatan peralatan elektronik vital sangat diperlukan peralatan pencegah harmonic buruk yaitu dengan memasang Filter harmonic yang bekerja menghilangkan gelombang harmonic.
Untuk pemilihan type / jenis kapasitor dapat berdasarkan berapa besar factor harmonic (thd) yang terkandung dalam instalasi dan besarnya dalam satuan prosen ( % ) . sebagai contoh harmonic instalasi sebesar 20 % yang berarti dari total KVA peralatan yang ada ada 20 % peralatan yang mengandung harmonic.n
Jika total harmonic yang ada kurang dari 15 % maka pemilihan kapasitor memakai type standart dengan tegangan 415 V.
Jika total harmonic yang ada lebih dari 15 % dan kurang dari 25 % , maka pemilihan type memakai kapasitor yang tegangan kerjanya 460 V dengan rating Kvar lebih tinggi 21 % sebagai contoh :
Untuk mendapatkan 50 Kvar pada tegangan 415 V , maka persamaannya menggunakan ( 460/415 ) kwadrat x 50 Kvar = 60 kvar pada tegangan 460 V
Jika total harmonic yang ada diatas 25% sampai 40% maka pemilihan kapasitor menggunakan tegangan kerja 525 V, dengan demikian untuk mendapatkan daya reaktif 50 Kvar pada 415 V dibutuhkan kapasitor sebesar 60 % lebih tinggi yaitu kapasitor 80 Kvar / 525 V. 60 % ini berasal dari ( 525/415 ) kwadrat = 1,60 atau 60 % lebih banyak.
Jika total harmonic lebih tinggi dari 40 % , maka kapasitor yang dipakai menggunakan tegangan sebesar 525 V ditambah pemasangan detune reaktor secara seri. Pemasangan Detune reaktor ini sebagai filter harmonic yang mana berupa lilitan dengan satuan besaran Henry .
Karena detune reaktor berupa lilitan maka harmonic ini (gelombang liar) akan beresonansi terhadap lilitan induktif dan dengan sendirinya memfilter harmonic yang masuk ke kapasitor bank.
Untuk peralatan elektronik yang mempunyai sensifitas tinggi seperti halnya peralatan yang ada pada pusat telekomunikasi , maka diperlukan filter harmonic jenis khusus seperti yang tampak pada gambar panel diatas,
Salah satu cara lagi yang bisa menghilangkan harmonic ini yaitu menggunakan kopling mekanik atau secara ilmiah menggunakan metoda motor Generator set.
Metode ini cukup effektif memisahkan sumber daya yang terkontaminasi harmonic . Metode ini dapat diterangkan sebagai berikut :
Sumber daya terlebih dahulu digunakan untuk memutar motor listrik , jika menginginkan mendapatkan putaran sinkron dapat dengan menggunakan motor sinkron. Tapi karena halnya untuk mendapatkan motor sinkron susah didapatkan dipasaran dapat juga menggunakan motor induksi yang dikontrol oleh inverter untuk mendapatkan putaran sinkron. Daya poros mekanis yang berputar ini digunakan untuk menggerakkan generator listrik . dan daya keluaran dari generator ini sudah merupakan bentuk sinusoida murni tanpa terkontaminasi harmonic lagi dikreanakan terpisah oleh kopling mekanik.
Pemasangan Detuned Reactor akan memberikan keuntungan :
- Melindungi kapasitor dari kerusakan akibat kelebihan tegangan / arus karena harmonic yang terlalu tinggi.
- Dapat menurunkan prosentase harmonic pada jaringan.
Komponen komponen yang terdapat pada panel kapasitor antara lain :
1. Main switch / load Break switch
Main switch ini sebagai peralatan kontrol dan isolasi jika ada pemeliharaan panel . Sedangkan untuk pengaman kabel / instalasi sudah tersedia disisi atasnya (dari) MDP.Mains switch atau lebih dikenal load break switch adalah peralatan pemutus dan penyambung yang sifatnya on load yakni dapat diputus dan disambung dalam keadaan berbeban, berbeda dengan on-off switch model knife yang hanya dioperasikan pada saat tidak berbeban .
Untuk menentukan kapasitas yang dipakai dengan perhitungan minimal 25 % lebih besar dari perhitungan KVar terpasang dari sebagai contoh :
Jika daya kvar terpasang 400 Kvar dengan arus 600 Ampere , maka pilihan kita berdasarkan 600 A + 25 % = 757 Ampere yang dipakai size 800 Ampere.
2. Kapasitor Breaker.
Kapasitor Breaker digunkakan untuk mengamankan instalasi kabel dari breaker ke Kapasitor bank dan juga kapasitor itu sendiri. Kapasitas breaker yang digunakan sebesar 1,5 kali dari arus nominal dengan I m = 10 x Ir.
Untuk menghitung besarnya arus dapat digunakan rumus
I n = Qc / 3 . VL
Sebagai contoh : masing masing steps dari 10 steps besarnya 20 Kvar maka dengan menggunakan rumus diatas didapat besarnya arus sebesar 29 ampere , maka pemilihan kapasitas breaker sebesar 29 + 50 % = 43 A atau yang dipakai 40 Ampere.
Selain breaker dapat pula digunakan Fuse , Pemakaian Fuse ini sebenarnya lebih baik karena respon dari kondisi over current dan Short circuit lebih baik namun tidak efisien dalam pengoperasian jika dalam kondisi putus harus selalu ada penggantian fuse. Jika memakai fuse perhitungannya juga sama dengan pemakaian breaker.
3. Magnetic Contactor
Magnetic contactor diperlukan sebagai Peralatan kontrol.Beban kapasitor mempunyai arus puncak yang tinggi , lebih tinggi dari beban motor. Untuk pemilihan magnetic contactor minimal 10 % lebih tinggi dari arus nominal ( pada AC 3 dengan beban induktif/kapasitif). Pemilihan magnetic dengan range ampere lebih tinggi akan lebih baik sehingga umur pemakaian magnetic contactor lebih lama.
4. Kapasitor Bank
Kapasitor bank adalah peralatan listrik yang mempunyai sifat kapasitif..yang akan berfungsi sebagai penyeimbang sifat induktif. Kapasitas kapasitor dari ukuran 5 KVar sampai 60 Kvar. Dari tegangan kerja 230 V sampai 525 Volt.
5. Reactive Power Regulator
Peralatan ini berfungsi untuk mengatur kerja kontaktor agar daya reaktif yang akan disupply ke jaringan/ system dapat bekerja sesuai kapasitas yang dibutuhkan. Dengan acuan pembacaan besaran arus dan tegangan pada sisi utama Breaker maka daya reaktif yang dibutuhkan dapat terbaca dan regulator inilah yang akan mengatur kapan dan berapa daya reaktif yang diperlukan. Peralatan ini mempunyai bermacam macam steps dari 6 steps , 12 steps sampai 18 steps.
Peralatan tambahan yang biasa digunakan pada panel kapasitor antara lain :
- Push button on dan push button off yang berfungsi mengoperasikan magnetic contactor secara manual.
- Selektor auto – off – manual yang berfungsi memilih system operasional auto dari modul atau manual dari push button.
- Exhaust fan + thermostat yang berfungsi mengatur ambein temperature dalam ruang panel kapasitor. Karena kapasitor , kontaktor dan kabel penghantar mempunyai disipasi daya panas yang besar maka temperature ruang panel meningkat.setelah setting dari thermostat terlampaui maka exhust fan akan otomatic berhenti.
DESIGN DAN PERENCANAAN PANEL KAPASITOR
Suatu pabrik mempunyai parameter listrik sebagai berikut :
Pada beban puncak / full operasional terbaca :
Ampere : 1200 Ampere
Tegangan : 385 Volt AC
Cos phi : 0,75 ( cosphi 1 ) = sin phi 1 : 0,661
Kw meter : 600 Kw
Cos phi yang ditargetkan : 0,96 (cosphi 2 ) = sin phi 2 : 0,28
Perhitungan dengan rumus :
Ic = ( Arus Maksimum x sin phi 1) – ( Arus maksimum x cos phi 1 x sin phi 2 )
-----------------------------------------
Cos phi 2
= ( 1200 x 0,661 ) - ( 1200 x 0,75 x 0,28 )
-----------------------
0,96
= 793 ,2 - 262,5
= 530,7 Ampere Reaktif
Qc = 3 x VL x Ic
= 1,732 x 385 x 530,7
= 353,88 Kvar = 354 Kvar
Kapasitor yang dibutuhkan :
Tegangan kerja kapasitor 415 V ( V 2 )
Tegangan jala jala terukur 385 V ( V1 )
Daya reaktive terhitung 354 Kvar ( Q1 )
Daya Reaktive Kebutuhan ( Q2) ?
Q 1 354
Q 2 = ------------------ = ------------------ = 411,6 Kvar = 420 Kvar
( V1 / V2 ) ( 385/ 415 )
Jadi kebutuhan daya reaktif aktualnya 420 Kvar
1. Mains switch yang digunakan sebesar :
MS = 1,25 x I c = 1,25 x 530 Ampere = 662 Ampere
Bisa dipilih antara kapasitas switch 630 A atau 800 A
Selain Load break switch ( LBS ) bisa digunakan MCCB atau fuse
2. Regulator yang di pilih mempunyai 12 steps dengan perhitungan
10 Kvar x 1 steps , 20 kvar x 1 steps , 30 Kvar x 1 steps dan 40 Kvar 9 steps = 10 + 20 + 30 + 360 = 420 Kvar
Current transformer yang dipakai 600 / 5 A atau menggunakan Current transformer yang sudah ada di panel MDP berapapun ampernya, Reactive power regulator dapat menyesuaikan settingan.
3. Pemutus tenaga yang digunakan bisa menggunakan MCCB atau Fuse
Untuk 10 Kvar = 20 Ampere ( fuse 25 Ampere)
Untuk 20 Kvar = 40 Ampere ( fuse 50 Ampere )
Untuk 30 KVar = 60 Ampere ( fuse 80 Ampere )
Untuk 40 Kvar = 80 Ampere ( fuse 100 Ampere)
Dianjurkan memilih breaker dengan breaking capacity yang tinggi minimal 25 KA.
4. Magnetic contactor yang digunakan untuk kapasitor
10 Kvar = 20 Ampere
20 Kvar = 40 Ampere
30 Kvar = 60 Ampere
40 Kvar = 80 Ampere
Rating ampere kontaktor kondisi pada AC 3 bukan AC1
5. Kapasitor bank yang digunakan pada tegangan jaringan 400/415 V
10 Kvar 1 unit
20 Kvar 1 unit
30 Kvar 1 unit
40 Kvar 9 unit
6. Busbar utama untuk kapasitas 600 Ampere menggunakan ukuran
8 x 50 mm = 400 mm 2 (batang tembaga ).Untuk busbar main switch menggunakan ukuran 10 x 30 mm = 300 mm2
7. Kabel Power kapasitor bank menggunakan kabel NYA / NYAF
10 Kvar = 6 mm 2
20 Kvar = 10 mm 2
30 Kvar = 16 mm 2
40 Kvar = 25 mm 2
Additional komponen :
- Exhaust fan 60 watt 220 V + Thermostat
- Selektor auto manual
- Push button on – off
- Pilot lamp
- Mcb control / fuse control
- Cover pertinax 2 mm
Box panel yang digunakan ukuran :
Tinggi : 200 cm
Panjang : 150 cm ( 2 pintu )
Tebal / dalam : 75 cm
Tebal plat : 1,8 mm – 2 mm
Warna : Grey RAL 7032
Cat : Powder Coating
Langkah perakitan dan instalasi :
1. Atur dan pasang dudukan Main Switch, MCCB , Magnetic contactor , dan kapasitor bank
2. Ukur dan setting dudukan untuk busbar utama
3. Ukur dan setting untuk busbar mains switch
4. Lubangi busbar dan cat sesuai dengan urutan RST
5. Lubangi dudukan plat untuk pasang Main switch ,MCCB,Kontaktor dan kapasitor
6. Lubangi pintu panel sesuai gambar rencana untuk Modul regulator ,pilot lamp, push button dan selector auto manual.
7. Pasang semua komponen pada tempatnya sesuai gambar
8. Instalasi Kabel Power dari Busbar , MCCB, Magnetic contactor sampai Kapasitor bank.gunakan sleve kabel untuk menandai phasenya.
9. Instalasi kabel kontrol, dianjurkan menggunakan kabel merah warna standar untuk rangkaian kontrol AC) kabel schoon merah untuk menandai Phase dan Kabel schoon biru untuk menandai neutral. Untuk RST menggunakan kabel shoon merah,kuning , biru
10. Instalasi kabel kontrol menggunakan marking kabel untuk kemuda
Han identifikasi dan pemeliharaan.
Langkah langkah Test Commisioning Panel Kapasitor
1. Tarik kabel Power utama NYY 3 x 1 x 300 mm dari main switch dipanel kapasitor sampai breaker outgoing / busbar panel MDP.
2. Tarik dan instalasi kabel Neutral NYAF 6 mm
3. Tarik kabel grounding dengan ukuran minimal BC 50 mm
4. Tarik kabel instalasi kontrol Current transformer dengan menggunakan kabel NYM 2 x 4 mm , jika jarak antara panel kapasitor dengan panel MDP lebih dari 10 meter maka kabel kontrol Current transformer diperbesar menjadi NYM 2 x 6 mm.
5. Cek ulang penyambungan kabel power dan kabel CT pastikan sudah sesuai urutan dan polaritasnya.
6. Cek dengan ohmmeter antara busbar dengan busbar, dan antara busbar dengan body atau grounding.
7. Semua switch baik main switch , MCCB , mcb kontrol dan selector switch dalam keadaan off.
8. Masukkan tegangan power ke panel Kapasitor. Catat tegangan kerja dan amati.
9. Masukkan main switch diikuti oleh mccb step by step.
10. Naikkan MCB control untuk mengoperasikan modul regulator.
11. Setting C / K regulator dengan rumus :
Ampere step pertama 16 ampere
C/K = ------------------------------- = --------------- = 0,13
Ratio CT arus 600/5
12. Setting power factor target pada cos phi 0,96
13. Setting program step utama pada : 1:2:3:4:4:4
14. Setting program stepping capasitor Normal / circular
15. Setelah selesai baca parameter power factor saat itu. Biasanya menunjukkan antara paling rendah 0,65 sampai 0,85. Jika terbaca dibawah 0,5 dimungkinkan terjadi salah koneksi kabel sensor ke regulator / salah fase
16. Selektor dipindah diposisi manual. Pada posisi manual ini semua perintah kontaktor dioperasikan dari push button.
17. Tekan push button satu persatu bergantian. Cek ampere masing masing phase dari kapasitor .Idealnya seimbang jika terjadi ketidak seimbangan terlalu jauh . Terjadi kerusakan pada kapasitor ,bisa juga terjdi pada kontaktor hingga tidak kontak.
18. Baca dan amati besaran ampere yang mengalir apakah sudah sesuai dengan rating ampere yang tertera dalam kapasitas kapasitor.
19. Setelah semua steps diperiksa dan tidak ada kelainan berarti, maka selector dipindah ke posisi auto.
20. Dalam keadaan auto ini steps steps kapasitor akan masuk dengan sendirinya menyesuiakan besaran kvar yang dibutuhkan.
21. Amati perubahan pada tampilan cosphi meter minimal hasil akhir sesuai dengan target atau mendekati dari target.
22. Test thermostat dengan memanasinya pakai korek api, beberapa saat setelah thermal setting terlampaui maka exhaust fan harus bekerja.
23. Test commissioning telah selesai.
Bagaimanakah system operasional panel kapasitor bisa bekerja secara otomatis ?
Hal tersebut dapat diterangkan sebagai berikut :
- Dalam modul Reactive Power Regulator mempunyai input CT dan input tegangan, sehingga bisa terbaca arus, tegangan , power factor, KVA, KW dan KVAR,parameter ini tidak selalu ditampilkan dalam layar akan tetapi selalu terbaca dalam proses internal modul Dan parameter Kvar ini yang dipakai sebagai acuan berapa steps dan berapa Kvar yang masuk kesistem agar power factor mencapai target. Waktu tunda dan model rotasi dari steps by stepas dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan.
- Jika pada saat beban awal mempunyai power factor yang rendah dengan beban rendah maka yang terhitung dalam modul regulator bukan berapa ampere beban atau berapa power factor beban melainkan berapa kvar yang diperlukan untuk mencapai nilai target power factor. Maka kapasitor tidak akan masuk bila nilai kvar yang dibutuhkan dibawah nilai minimum Kvar yang tersedia.
- Jika pada suatu saat beban bertambah besar dimana beban ini mengandung beban induktif antara lain lampu mercury, Motor motor listrik, AC dll. Maka dalam modul akan mendeteksi Kva menjadi lebih besar maka steps step kontaktor akan masuk memberikan masukan daya reaktif yang dibutuhkan . Karena Kapasitor mempunyai sifat kapasitif sebagai penyeimbang sifat induktif maka power factor dari beban sudah diperbaiki mendekati power factor target.
- Demikian juga sebaliknya jika beban berkurang maka nilai kvar yang disupply kapasitor menjadi berlebihan, hal ini segera dideteksi oleh modul regulator dan segera mengurangi pasokan beban kapasitif , sehingga power factor kembali normal mendekati target.
Contoh perhitungan :
Berapakah nilai Kvar yang dibutuhkan agar power factor dapat mencapai cos phi =1 dan berapakah nilai cosphi total bila terdapat beban beban sebagai berikut :
- 1 buah motor exhaust fan dengan Daya input : 10 kw cos phi 0,8 = 12,5 Kva
- 10 buah lampu mercury dengan daya input total 5 kw cos phi 0,5 = 10 Kva
- 5 buah motor compressor dengan daya input total 7 kw cos phi 0,7= 10 Kva
Dengan menggunakan rumus
Kva = Kw + Kvar
Kvar = Kva - kw
Kvar = 32,5 Kva - 22 Kw
= 7,56 Kvar
Kw 22
Cos phi total = ------------ = ---------- = 0,676
Kva 32,5